A.
Pencatatan
(akuntansi) Terhadap Transaksi Antar Perusahaan Afiliasi
Suatu perusahaan yang berada dalam suatu sistem
perusahaan induk.
Suatu Perusahaan dikatakan sebagai Perusahaan Afiliasi (Affiliated Company) dengan perusahaan lain apabila :
Suatu Perusahaan dikatakan sebagai Perusahaan Afiliasi (Affiliated Company) dengan perusahaan lain apabila :
·
Salah satu atau lebih direktur atau pejabat setingkat
dibawah direktur atau komisaris suatu perusahaan, ternyata juga menjabat
sebagai direktur atau pejabat setingkat dibawah direktur atau komisaris di
perusahaan lain.
·
Salah satu atau lebih direktur atau pejabat setingkat
dibawah direktur atau komisaris suatu perusahaan, ternyata juga mempunyai
hubungan keluarga dengan direktur atau
pejabat setingkat dibawah direktur atau komisaris di perusahaan lain.
·
Salah satu pihak perusahaan dapat memberhentian
direktur atau pejabat setingkat dibawah direktur atau komisaris suatu perusahaan, maka dua atau lebih perusahaan tersebut
dikatakan mempunyai hubungan afiliasi atau sebagai perusahaan afiliasi.
·
Salah satu pihak perusahaan dapat mengendalikan
perusahaan lainnya.
Peraturan baru itu adalah Peraturan Nomor IX.E.1
Lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-521/BL/2008 tentang
Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu yang diterbitkan
pada Jumat (12/12/2008). Seperti dikutip detikFinance dari situs
Bapepam, Sabtu (13/12/2008), aturan baru tersebut merupakan penyempurnaan dari
Peraturan Nomor IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.
Contoh:
PT.
Yogya Silver” yang bertempat kedudukan di Yogyakarta, membeli seluruh modal
saham “Lion Souvenir Corporation” yang bertempat kedudukan di Singapura pada
saat perusahaan yang di sebut terakhir ini didirikan yaitu pada tanggal 1
Januari 1977. Lion Souvenir Corporation mengeluarkan 1000 lembar saham biasa,
nominal S $ 10.000 per lembar. PT. Yogya Silver membeli saham – saham Lion
Souvenir Corporation dengan harga sebesar nominalnya. Berikut ini neraca PT.
Yogya Silver pada tanggal 1 Januari 1997, sebelum terjadinya pembelian saham –
saham Lion Souvenir Corporation tersebut.
PT. Yogya Silver
|
||||
Neraca, per 1 Januari 1997
|
||||
Aktiva
|
Hutang
& Modal
|
|||
Kas & Bank
|
Rp
2.500.000
|
Hutang Dagang
|
Rp
2.500.000
|
|
Piutang Dagang
|
Rp
3.250.000
|
Modal
:
|
Rp
10.000.000
|
|
Persd. Barang Dagang
|
Rp
4.500.000
|
Modal Saham
|
Rp
2.500.000
|
|
Aktiva Tetap Rp 5.000.000,00
|
Laba yang Ditahan
|
|||
Akm.Peny Aktiva Tetap Rp 250.000,00
|
||||
Rp
4.750.000
|
||||
Jumlah Aktiva
|
Rp
15.000.000
|
Jumlah Hutang & Modal
|
Rp
15.000.000
|
|
Dibawah
ini adalah ikhtisar transaksi serta
jurnal pembukuan yang terjadi dalam tahun 1977 dari kedua perusahaan
tersebut, jika PT. Yogya Silver menggunakan metode harga perolehan (cost method) terhadap
pencatatan(akuntansi) atas investasi saham – sahamnya.
Transaksi
|
PT.
Yogya Silver (dlm rupiah)
|
Lion
Souvenir Corporation (dalam $ Singapore)
|
1.
PT.Yogya Silver membeli 1.000
lembar saham – saham Lion Souvenir Corp. Dengan harga sebesar nominal.
Pembayaran dilakukan dengan wesel check . kurs yang berlaku pada saat itu
adalah S $1,00 = Rp 160,00
|
Investasi saham – saham
Lion Souvenir Corp,
Singapore (D)
Rp 1.600.000,00
Kas,Bank (K) Rp 1.600.000,00
|
Kas & Bank (D) 10.000,00
Modal
Saham (K) 10.000,00
|
2. Lion
Corp. Membeli aktiva tetap dengan harga S $ 2.500,00 (Kurs yang berlaku pada
saat tersebut adalah S $ 1,00 = Rp 165,00)
|
---
|
Aktiva Tetap (D) 2.500,00
Kas dan
Bank (K) 2.500,00
|
3. Pembelian
barang dagangan secara kredit: PT.Yogya Silver= Rp 5.000.000,00 Lion Corp = S $ 7,500
|
Pembelian (D) Rp 5.000.000,00
Hutang Dagang (K) Rp 5.000.000,00
|
Pembelian (D) 7.500,00
Hutang
Dagang (K) 7.500,00
|
4. Penjualan
Kredit :
PT.Yogya Silver = Rp 10.000.000,00
Lion Corp = Rp 17.500,00
|
Piutang Dagang (D) Rp 10.000.000,00
Hasil Penjualan (K) Rp 10.000.000,00
|
Piutang Dagang (D) 17.500,00
Hasil Penjualan (K) 17.500,00
|
5. Penjualan
oleh PT. Yogya Silver kepada Lion
Corp secara kredit sebesar Rp 750.000,00. Pada saat barang diterima kurs yang
berlaku adalah S $ 1 = Rp 150,00
(penjualan kepada Lion Corp sesuai dengan harga pokoknya
|
Piutang Dagang (Lion Corp) (D) Rp 750.000,00
Hasil Penjualan (K) Rp
750.000,00
|
Pembelian (D) 5.000,00
Hutang Dagang, PT Yogya Silver (K) 5.000,00
|
6. Dibayar macam – macam biaya usaha :
Pt. Yogya Silver = Rp 500.000,00
Lion Crop = S $2.250,00
|
Macam–macam biaya (D) Rp 500.000,00
Kas & Bank (K) Rp 500.000,00
|
Macam – macam biaya (D) 2.250,00
Kas & Bank (K) 2.250,00
|
7. Diterima
pembayaran dari langganan :
PT. Yogya Silver = Rp 10.500.000,00
Lion Corp = S $15.000,00
|
Kas & Bank (D) Rp 10.500.000,00
Piutang Dagang (K) Rp 10.500.000,00
|
Kas & Bank (D) 15.000,00
Piutang
Dagang (K) 15.000,00
|
8. Diterima
pembayaran atas barang – barang dagangan yang dibeli oleh Lion Corp melalui
wesel check sebesar :
S $ 2.500,00. Kurs yang berlaku pada
saat wesel diterima oleh PT. Yogya Silver adalah S $ 1= Rp 150,00
|
Kas & Bank (D) Rp 375.000,00
Piutang Dagang Rp 375.000,00
|
Hutang Dagang PT. Yogya Silver (D)
2.500,00
Kas
& Bank 2.500,00
|
9. Dibayar
hutang dagang:
PT. Yogya Silver = Rp 5.250.000,00
Lion Corp = S$ 5.500,00
10. Pembagian
dan pembayaran deviden oleh Lion Crop sebesar :
S $ 5.000. jumlah tersebut dikirim via
wesel check , sedang
kurs yang berlaku pada saat wesel yang
diterima oleh :
PT. Yogya Silver adalah S $ 1= Rp 150,00
|
Kas & Bank (D) Rp 10.500.000,00
Piutang Dagang (K) Rp 10.500.000,00
Kas & Bank (D) Rp 750.000,00
Penghasilan Deviden (K) Rp 750.000,00
|
Kas & Bank (D) 5.500,00
Piutang Dagang (K) 5.500,00
Deviden yang dibagi (D) 5.000,00
Kas
& Bank (K) 5.000,00
|
11. Mencatat
biaya penyusutan aktiva tetap, masing – masing :
PT. Yogya Silver = Rp 250.000,00
Lion Corp = S$250
|
Macam – macam biaya (D) Rp250.000,00
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap (K)
Rp 250.000,00
|
Macam – macam biaya (D) 250,00
Akumulasi
Penyusutan Aktiva Tetap (K) 250,00
|
Apabila
kemudian pada akhir periode tahun buku 1997, disusun laporan keuangan tersebut,
maka harus terlebih dahulu dibuat jurnal penutup untuk menutup rekening –
rekening penghasilan dan biaya – biaya ke rekening laba – ruginya.
Adapun
jurnal penutup, pada masing – masing
perusahaan itu adalah sebagai berikut :
Keterangan
|
PT
Yogya Silver (dalam rupiah)
|
Lion
Souvenir Corp (dalam $ Singapore)
|
a. Menutup
saldo rekening persediaan awal ke laba rugi
|
Rugi – Laba(D) Rp 4.500.000,00
Persediaan barang dagangan
1Januari 1997(K) Rp 4.500.000,00
|
-
|
b. Mencatat
persediaan akhir barang dagangan:
PT. Yogya Silver = Rp
3.750.000,00
Lion Corp = S$
5.000,00
*) Terdiri dari :
Di beli dari luar:
S $ 3.000,00
Dibeli dari PT Yogya
Silver: S$ 2.000,00
|
Persediaan BarangDagangan, 31
Desember 1997 (D) Rp 3.750.000,00
Rugi –
Laba(K) Rp 3.750.000,00
|
Persediaan BarangDagangan, 31
Desember 1997 (D) 5.000,00
Rugi –
Laba(K) 5.000,00
|
c. Menutup
rekening – rekening penghasilan dan biaya – biaya ke laba-rugi
|
Hasil
penjualan(D) Rp 10.750.000,00
Penghasilan
Deviden(D) Rp 750.000,00
Macam – macam biaya(K) Rp 750.000,00
Pembelian(K) Rp 5.000.000,00
Rugi – Laba
(K) Rp 5.750.000,00
|
Hasil
Penjualan (D) 17.500,00
Macam –macam
Biaya(K) 2.500,00
Pembelian (K) 12.500,00
Rugi – Laba(K) 2.500,00
|
d. Memindahkan
saldo laba ke laba yang ditahan dan menutup rekening deviden yang dibagi ke
rekening laba yang ditahan
|
Rugi
– Laba (D) Rp 500.000,00
Laba yang ditahan (K) Rp 500.000,00
|
Rugi
– Laba (D) 7.500,00
Laba yang ditahan (K) 7.500,00
Laba
yang ditahan (D)
5.000,00
Deviden yang dibagi (K)
5.000,00
|
Sedang
laporan laba rugi untuk periode
tahun buku 1977, dari masing – masing perusahaan seperti tersebut di bawah ini
:
Rekening – rekening pendapatan
dan biaya - biaya
|
PT Yogya Silver (dalam rupiah)
|
Lion Souvenir Corp ( dalam $
Singapore)
|
Hasil Penjualaln
Harga Pokok Penjualan:
Presiden
Barang Dagangan 1 Januari 1997
Pembelian
Barang yang tersedia untuk dijual :
Persediaan
Barang Dagangan, 31 Desember 1977
Laba Kotor Penjualan
Biaya Usaha:
Macam – macam biaya
Laba Usaha
Penghasilan & biaya di luar usaha
:
Penghasilan Deviden
Laba Bersih
|
10.750.000,00
4.500.000,00
9.500.000,00
5.000.000,00
4.250.000,00
|
17,500
-
12,500
5,000
10,000
7,500
--
|
Rekening-rekening
Neraca
|
PT Yogya Silver
(dalam rupiah)
|
Liom Souvenir Corp.
(dalam $ Singapore)
|
Aktiva
Kas & Bank
Piutang Dagang
(neto)
Piutang Dagang –
Nova Corp
Persediaan Barang
Dagangan
Aktiva Tetap
Akumulasi
Penyusutan Aktiva Tetap
Investasi
Saham-saham Nova Souvenir Corp (Cost Method)
|
6.775.000,00
2.750.000,00
375.000,00
3.750.000,00
5.000.000,00
(500.000,00)
1.600.000,00
|
7.250
2.500
-
5000
2.500
(250)
-
|
Jumlah Aktiva
|
19.750.000,00
|
17.000
|
Hutang
& Modal
Hutang Dagang
Hutang Dagang –
PT Yogya Silver
Modal Saham
Laba Yang Ditahan
|
2.250.000,00
-
10.000.000,00
7.500.000,00
|
2.000
2.500
10.000
2.500
|
Jumlah
Hutang & Modal
|
19.750.000,00
|
17.000
|
(2)
Penyusunan laporan keuangan yang
dikonsolidasi – perusahaan anak di luar negeri
Penyusunan laporan keuangan yang dikonsolidasi
antara perusahaan induk dengan perusahaan
anaknya, yang bertempat kedudukan di luar negeri dilakukan melalui 2 (dua)
tahap sebagai berikut :
a. Tahap pertama
adalah menjabarkan saldo
rekening-rekening yang ada pada laporan keuangan perusahaan anak yang
dinyatakan dalam mata uang asing ke dalam mata uang dalam negeri (rupiah).
Penjabaran rekening-rekening yang
dinyatakan dalam mata uang asing ke dalam mata uang mata uang dalam negeri ,
biasanya dilakukan dengan bertitik tolak dari saldo rekening-rekening didalam
neraca sisa setelah penyesuaian (Adjusted Trial Balance)
b. Tahap kedua
setelah penjabaran rekening-rekening didalam neraca sisa (setelah penyesuaian)
tersebut, adalah melakukan eliminasi terhadap saldo hak-hak pemilikan
perusahaan induk pada perusahaan anak, saldo rekening-rekening hutang-piutang
serta (laba) dari hasil transaksi antar kedua perusahaan afiliasi tersebut,
sesuai dengan metode pencatatan yang dipakai (terhadap investasi saham-saham
pada perusahaan anak) dan bagian pemilikannya.
B.
Penjabaran
rekening-rekening yang dinyatakan dalam mata
uang asing.
Proses
ulangan rekening mata uang asing anak perusahaan ke dalam mata uang yang setara
(biasanya mata uang pelaporan perusahaan induk), untuk menyiapkan laporan
keuangan konsolidasi dalam mata uang asli dari perusahaan induk.
Penjabaran mata
uang asing, dalam arti yang paling sederhana, adalah setiap perhitungan yang melibatkan mengungkapkan jumlah uang dalam satu
mata uang dalam satuan mata uang yang berbeda. Menentukan berapa banyak Yen
Jepang (JPY) $ 100 Dolar AS (USD) akan membeli adalah contoh dari penjabaran
mata uang asing langsung. Dalam bisnis, bagaimanapun, terjemahan mata uang
sering jauh lebih rumit. Ketika perusahaan melakukan bisnis lintas batas, atau
aset pembelian atau pasokan luar negeri, mereka sering harus terlibat dalam
praktik akuntansi khusus penjabaran mata uang asing. Translations biasanya
harus dilakukan dalam beberapa langkah sesuai dengan pedoman tertentu dan hukum
nasional.
Penjabaran mata
uang adalah bagian penting dari lanskap perdagangan global. Bagaimana uang dari
satu negara yang dihargai di negara lain menginformasikan banyak keputusan
bisnis yang berbeda, dari waktu impor dan ekspor ke lokasi kantor di luar
negeri. Nilai tukar berfluktuasi terus-menerus. Perubahan harian biasanya
minimal, tetapi tergantung pada berapa banyak uang yang dipertaruhkan, bahkan
perubahan terkecil dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap bottom line
perusahaan. Praktek mata uang yang akurat dan seragam asing terjemahan sesuai
sangat penting.
Sebagian besar
pemerintah nasional – dan beberapa pemerintah daerah, serta – mengharuskan
perusahaan dalam perbatasan mereka untuk membuat pengungkapan rutin dan
pernyataan publik menilai aset mereka. Aturan pelaporan biasanya berlaku untuk
setiap perusahaan dengan kehadiran, tidak peduli di mana perusahaan yang
bermarkas. Perusahaan yang bertransaksi banyak bisnis di luar negeri, serta
perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh entitas asing, biasanya harus terlibat
dalam cukup banyak penjabaran mata uang asing untuk menyampaikan laporan
keuangan yang mencerminkan semua pendapatan dan kerugian, tetapi mata uang
tunggal.
Bisnis harus
hampir selalu melaporkan transaksi keuangan asing dalam mata uang lokal. Hal
ini biasanya melibatkan penjabaran laporan keuangan asing dan rekening mata
uang asing serta penjabaran nilai perusahaan secara keseluruhan. Pengungkapan
biasanya harus dibuat dalam bentuk laporan keuangan konsolidasian, yang
merupakan pernyataan tunggal yang berisi daftar semua transaksi perusahaan.
Terjemahan mata
uang asing dalam konteks perusahaan biasanya melibatkan identifikasi dari tiga
mata uang yang berbeda. Akuntan melakukan terjemahan mata uang biasanya mulai
dengan mengisolasi "mata uang dari buku-buku dan catatan," adalah
yang mata uang bahwa perusahaan induk digunakan untuk menjalankan bisnis
sehari-hari. Mata uang terkait kedua adalah "mata uang fungsional,"
yang merupakan mata uang utama transaksi luar negeri. Akhirnya, "mata uang
pelaporan" adalah mata uang yang harus digunakan dalam laporan keuangan
konsolidasi. Mata uang pelaporan sering sama baik sebagai mata uang dari
buku-buku dan catatan atau mata uang fungsional, tetapi tidak selalu.
Penjabaran
rekening-rekening yang dinyatakan dalam mata uang asing ke dalam rupiah berlaku
ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur di dalam Prinsip Akuntansi Indonesia
seperti tertera pada Prinsip 1.3. yang menyatakan : Perkiraan anak-anak
perusahaan atau bagian perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri,
harus dijabarkan dalam rupiah dengan kurs pertukaran yang sesuai. Kurs
pertukaran supaya dicantumkan salam laporan keuangan. Adapun ketentuan
penjabaran tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Ketentuan penjabaran terhadap
rekening-rekening neraca
1.
Aktiva Lancar
Kas,
piutang jangka pendek dan aktiva lancar lainnya dijabarkan dalam rupiah dengan
kurs pada saat pembuatan neraca, terkecuali ada perjanjian khusus dalam
tukar-mnukar dengan uang asing termaksud. Persediaan barang-barang harus
mengikuti ketentuan-ketentuan umum (standard rule) untuk memilih “harga
terendah antara harga pokok dengan harga pasar” (Cost or market whichever is
lower). Apabila persediaan barang-barang tidak dijabarkan dengan nilai kurs
yang berlaku pada saat penyusunan neraca, maka harus diberikan alasan mengenai
prosedur lain yang diikutinya itu.
‘
2.
Aktiva Tetap
Aktiva
tetap, investasi yang permanen dan piutang-piutang jangka panjang harus
dijabarkan ke dalam rupiah dengan kurs pada saat aktiva yang bersangkutan
diperoleh. Penyusutan aktiva tetap di dalam laporan keuangan yang dikonsolidasi
harus dihitung atas dasar jumlah-jumlah yang sudah dinyatakan (dijabarkan)
dalam rupiah.
3.
Hutang jangka pendek (Hutang lancar
Hutang-hutang
jangka pendek yang harus dibayar dengan uang asing harus dijabarkan dalam
rupiah, dengan kurs yang berlaku pada tanggal neraca.
4.
Hutang jangka panjang
Hutang-hutang
jangka panjang yang dinyatakan dalam mata uang asing harus dijabarkan dalam
rupiah, dengan kurs yang berlaku pada saat trjadinya (timbulnya) hutang yang
bersangkutan.
5.
Modal yang disetor (Modal saham)
Modal
yang disetor (modal saham) yang dinyatakan dalam suatu uang asing harus
dijabarkan dalam rupiah, dengan kurs yang brlaku pada saat (modal) saham yang
bersangkutan dikeluarkan.
b.
Ketentuan penjabaran terhadap
rekening-rekening penghasilan dan biaya-biaya
Rekening-rekening
penghasilan dan biaya-biaya harus dijabarkan dengan kurs rata-rata yang berlaku
dalam tahun buku yang berjalan. Apabila dalam tahun buku yang berjalan terdapat
fluktuasi yang besar dalam nilai kurs, maka dipakai kurs rata-rata per bulan atau
jika dimungkinkan dapat disadarkan atas nilai kurs rata-rata tertimbang
(weighted average)
Dengan
adanya ketentuan-ketentuan mengenai nilai kurs mata uang yang harus dipakai di
dalam menjabarkan saldo rekening-rekning pembukuan perusahaan anak di luar negeri
tersbut, maka terdapat empat (4) macam nilai kurs yang harus dipakai yang
mungkin satu sama lain berbeda-beda. Sebagai akibat penjabaran kedalam rupiah
dengan nilai kurs yang berbeda-beda itu terhadap laporan keuangan (untuk
periode tahun buku tertentu), sangat dimungkinkan saldo-saldo rekening yang ada
setelah dijabarkan secara keseluruhan menjadi tidak seimbang.
Dalam
hal neraca sisa yang dijabarkan, jumlah seluruh rekening-rekening dengan saldo
debit tidak sama dengan jumlah seluruh rekening-rekening yang mempunyai saldo
kredit. Apabila hal ini terjadi, maka selisih antara jumlah debit dan kreditnya
untuk sementara ditampung dalam rekening “Selisih Penyesuian Kurs”
Saldo selisih
penyesuaian Kurs pada akhirnya akan disajikan dalam laporan rugi-laba (yang
dikonsolidasi).
Adapun keempat
macam nilai kurs yang mungkin dipakai, seperti dikemukakan tersebut di atas
adalah :
a. Nilai
kurs yang berlaku pada tanggal penyusunan neraca, atau disingkat (N)
b. Nilai
kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi tertentu, misalnya kurs pada
saat (modal) saham dikeluarkan, kurs pada saat aktiva tetap dibeli, kurs
Historis atau disingkat (H).
c. Nilai
kurs yang dipakai untuk mnjabarkan saldo rekening-rkning pada buku-buku
perusahaan induk dari hasil transaksi-transaksi trtentu, misalnya untuk
transfer modal kerja dari perusahaan induk atau untuk rekening-rekening timbal
balik disingkat (T).
d. Nilai
kurs rata-rata yang telah dihitung, misalnya kurs rata-rata per bulan,
rata-rata tertimbang atau disingkat (R).
Adapun penjabaran rekening-rekening
laporan keuangan (yang telah diubah menjadi neraca sisa) dari Lion Souvenir
Corporation pada contoh sebelumnya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
dimaksud dan dengan anggapan-anggapan seperti dibawah ini, adalah sebagai berikut
:
(1)
Kurs rata-rata yang berlaku dalam tahun
1977 (dianggap) S $ 1 = Rp. 160,00
(2)
Kurs yang berlaku pada tanggal 31
Desember 1977 (pada tanggal neraca) (dianggap) S $ 1 = Rp. 162, 50
Lion
Souvenir Corporation
Neraca
Sisa yang dijabarkan dalam Rupiah
Per
31 Desember 1977
Rekening-rekening
Pembukuan
|
Neraca Sisa
|
Kurs
Penjabaran
|
Neraca Sisa
|
||
(Setelah
Penyesuaian)
|
(Setelah
Penyesuaian)
|
||||
(S $)
|
(Rp)
|
||||
D
|
K
|
D
|
K
|
||
Kas & Bank
|
S $ 7,250
|
-
|
(N) – 162,50
|
1.178.125,00
|
-
|
Piutang Dagang (neto)
|
2,500
|
-
|
(N) – 162,50
|
406.250,00
|
-
|
Aktiva Tetap
|
2,500
|
-
|
(H) – 165,00
|
412.500,00
|
-
|
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap
|
-
|
250
|
(H) – 165,00
|
-
|
41.250,00
|
Hutang Dagang
|
-
|
2,000
|
(N) – 162,50
|
-
|
325.000,00
|
Hutang - PT Yogya Silver
|
-
|
2,500
|
(T) Rp. 375.000,00
|
-
|
375.000,00
|
Modal Saham
|
-
|
10,000
|
(H) – 160,00
|
-
|
1.600.000,00
|
Deviden Yang Dibagi
|
5,000
|
-
|
(T) Rp. 750.000,00
|
750.000,00
|
-
|
Pembelian : dari luar
|
7,500
|
-
|
(R) – 160,00
|
1.200.000,00
|
-
|
dari PT
Yogya Silver
|
5,000
|
-
|
(T) Rp. 750.000,00
|
750.000,00
|
-
|
Macam-macam Biaya
|
2,250
|
-
|
(R) – 160,00
|
360.000,00
|
-
|
Biaya Penyusutan Aktiva Tetap
|
250
|
-
|
(H) – 165,00
|
41.250,00
|
-
|
Hasil Penjualan
|
17,500
|
(R) – 160,00
|
2.800.000,00
|
||
S $ 32.250
|
S $ 32.250
|
5.098.125,00
|
5.141.250,00
|
||
Selisih Penyesuaian Kurs
|
43.125,00
|
||||
5.141.250,00
|
5.141.250,00
|
||||
Persediaan Barang Dagangan
|
|||||
31 Desember 1977 :
|
|||||
Dibeli dari luar
|
S $ 3,000
|
S $ 3,000
|
(N) – 162,50
|
487.500,00
|
487.500,00
|
Dibeli dari PT Yogya Silver
|
2,000
|
2,000
|
(H) – 150,00
|
300.000,00
|
300.000,00
|
S $ 5,000
|
S $ 5,000
|
787.500,00
|
787.500,00
|
||
Tahap kedua,
eliminasi terhadap hak pemilikan perusahaan induk dan saldo hutang-piutang
antar perusahaan afiliasi. Seperti biasanya penyusunan laporan keuangan ini
untuk mempermudah proses eliminasinya dimulai denagan menyusun daftar lajur.
Proses eliminasi
dalam daftar lajur selanjutnya tergantung dari metode pencatatan yang dipakai
terhadap investasi saham-saham pada perusahaan anak. Oleh karena itu pada
contoh ini hak kontrol perusahaan induk diperoleh pada saat perusahaan anak
didirikan, maka eliminasi terhadap hak-hak pemilikan di dalam daftar lajur
rlatip sederhana.
Penyusunan
laporan keuangan yang dikonsolidasi selanjutnya diselenggarakan seperti biasa.
Berikut ini akan
diberikan contoh penyusunan laporan keuangan yang dikonsolidasi masing-masing
apabila metode harga perolehan (Cost method) dan metode equity dipakai, dari data yang ada pada contoh sebelumnya.
Metode Harga Perolehan
(Cost Method)
Apabila metode harga perolehan (cost
method) dipakai berarti dari data yang tersedia sudah siap disusun laporan
keuangan yang dikonsolidasi.
Adapun
jurnal-jurnal eliminasi yang dirlukan, apabila metode harga perolehan dipakai
adalah sebagai berikut :
A. Eliminasi
terhadap hak pemilikan PT Yogya Silver pada Lion Corporation
Modal Saham, Lion Corporation Rp. 1.600.000,00
Investasi Saham-saham Lion
Corporation Rp.
1.600.000,00
B. Eliminasi
terhadap saldo hutang-piutang yang timbul dari transaksi jual-beli
barang-barang dagangan
Hutang PT Yogya Silver (Lion Corporation) Rp. 375.000,00
Piutang Lion Corporation (PT Yogya
Silver) Rp. 375.000,00
C. Eliminasi
terhadap penghasilan deviden atas deviden yang dibagikan oleh Lion Corporation
Penghasilan deviden (PT Yogya Silver) Rp. 750.000,00
Deviden yang dibagi (Lion Corporation) Rp.
750.000,00
D. Eliminasi
terhadap transaksi jual-beli barang dagangan antara PT Yogya Silver dengan Lion
Corporation
Hasil penjualan (PT Yogya Silver) Rp. 750.000,00
Pembelian (Lion Corporation) Rp. 750.000,00
Metode Equity
Pada metode equity laba (rugi) usaha perusahaan anak
secara periodic dianggap sebagai penghasilan bagi perusahaan induk dan
dilaporkan dalam laporan laba ruginya. Di lain pihak deviden yang dibagikan
oleh perusahaan anak tidak lagi dianggap sebagai penghasilan bagi perusahaan
induk, melainkan merupakan realisasi atas penghasilan yang telah dicatat
sebelumnya. Jika perusahaan anak berada diluar negeri , maka bagian laba yang
menjadi hak perusahaan induk dihitung dari jumlah laba (rugi) setelah
penjabaran kedalam rupiah (mata uang dalam negeri).